Privilese

Timeline Twitter beberapa waktu lalu ngomongin privilege, terutama tentang anak-anak orang tajir yang bisa menduduki posisi wakil menteri, staf ahli presiden, sampai yang dilabeli pengusaha muda yang inspiratif. Padahal kalau bukan karena latar belakangnya belum tentu mereka-mereka ini bisa 'melesat' karirnya. 


Benar kalo ada yang bilang, titik start para penyandang privilej ini jauh terdepan dibanding rakyat jelata. Tapi, saya mikirnya malah bagus kalau seseorang bisa memanfaatkan 'kelebihan'nya ini dibanding cuma ongkang-ongkang kaki.

Saya kenal seseorang yang berasal dari keluarga sangat berada namun sayang 'hak istimewa'nya malah disia-siain. Ditawarin kuliah di luar negeri gak mau, alasannya karena ribet harus pake Bahasa Inggris. Kerja disuruh pilih di mana aja berkat koneksi, gak diambil juga. 

Akhirnya dikasih modal usaha, tapi gak semua punya bakat dan kecakapan berbisnis kan. Ujung-ujungnya yang pegang kendali, ya ortunya juga. Anaknya mah traveling, nge-mall, ngejalanin hobi. Karena sudah berkecukupan, rumah dan mobil udah dikasih -- mau ganti tinggal bilang -- belanja bulanan dan makan sehari-hari pun sudah ditanggung.

Sirik? Tentu.

Sebab di saat saya ditolak lebih dari lima lembaga beasiswa, dese nolak kesempatan belajar di luar negeri tanpa harus mikirin dana. Di saat orang-orang berjuang dapet kerja, dia punya 'orang dalam' tapi diacuhkan. Dikasih modal bisnis tapi gak digunakan buat menimba pengalaman.

Intinya, orang yang punya privilese tapi gak dimanfaatkan, alias males, niscaya bikin geregetan.

Jadi, jujur saya sih malah kagum kalau ada anak yang berasal dari keluarga super mampu lalu berhasil bikin sesuatu yang punya impact. Iya dia punya modal, koneksi, dan lainnya, tapi kalau otaknya gak dipake dan serius ngejalaninnya ya pasti gagal. Contoh yang sukses menurut saya ya kayak si mas menteri pendidikan. Background dari keluarga lawyer kawakan, kuliah di kampus Ivy League, merilis aplikasi ojol yang akhirnya berguna buat masyarakat banyak. 

Cerita lain, ada juga orang yang berkat hoki dia bisa melesat dalam hal karir dan tentunya, jadi punya privilese. Saya kenal X, bapaknya sudah meninggal, ibunya guru. X masuk fakultas kedokteran, dari segi otak mumpuni tapi dari segi biaya engap-engapan. Apalagi masih ada saudara-saudaranya yang lain.

Rencana Allah memang suka ngagetin. Siapa sangka, suatu hari X menang undian berhadiah dari bank yang hadiahnya mobil mewah. Dia jual tuh mobil kemudian dapet uang cash lebih dari 1 miliar rupiah. Ditabung buat biaya kuliah kedokterannya plus beli rumah yang kemudian dikontrakkan buat tambahan biaya hidup mereka.

Asik, ya?

Saya menang undian door prize aja gak pernah. Hahaha. Jadi selain privilej, saya juga ngiri sama orang yg luck-nya gede. Kalo ini variabelnya intangible ya. Gak kelihatan, jadi lebih ngagetin gitu. 

Am I privileged, lucky, or something in between? Sebagai medioker sejati, saya kayaknya di tengah-tengah. :)) Buat saya, bisa sekolah sampe sarjana, les bahasa asing, liburan, beli barang-barang kebutuhan tersier -- walau harus nabung berbulan-bulan, adalah privilese. Menjadi seorang muslim di negara ini juga menurut saya adalah privilese. Sementara saya ngerasa sangat beruntung waktu lolos penerimaan beasiswa ke Amerika padahal ketika sesi interview gak yakin-yakin amat. 

Jadi, menurut saya tiap orang punya hak istimewa walau mungkin kadarnya berbeda. Pertanyaan lanjutannya, apakah privilese atau keberuntungan tersebut sudah dimanfaatkan untuk kehidupan/lingkungan sekitar? Ini yang gak semua orang aware

So, have you acknowledge your privilege?

Comments

Popular posts from this blog

Yang Kedua

Utang Mengutang

Nyasar