Ternyata, Dia Menyambutku dengan Cara yang Berbeda (Notes from Umrah)

Pertama kali melihat Ka'bah, aku merasa biasa saja. Suamiku menangis. Teman-teman serombongan terlihat terpana. Sementara aku hanya berpikir, "Oh, ini toh. It's smaller than I thought."

Hanya itu.

Sambil tawaf, kuperhatikan bangunan berselubung kain hitam itu. Sembari berdoa, sembari mengikuti bacaan dari muthawif. Beberapa jamaah terlihat bercucuran air mata. Aku justru berpikir keras, kenapa aku tidak terharu? Kenapa perasaan ini terasa kosong?

Selesai semua prosesi umrah, aku masih berusaha memahami perasaanku sendiri. Ke mana rasa haru biru itu? Ke mana getar-getar yang, kata orang-orang, akan terasa begitu menginjakkan kaki di Baitullah?

Sejujurnya, aku takut.

Hari kedua, sengaja aku datang lebih awal sebelum azan Zuhur, untuk salat dhuha dan salat-salat sunah lainnya. Lama kupandangi lagi Ka'bah. Aku berdoa. Berusaha membuka hati. Tapi justru semakin terusik karena rasanya tetap hampa. Padahal aku di sini, padahal ini perwujudan mimpi. Harusnya aku merasakan 'sesuatu'.

Hari ketiga, sambil city tour, kegelisahan itu masih ada. Kami menunaikan umrah kedua, dan kali ini aku berusaha lebih fokus. Lalu entah kenapa, hari itu penyakit lama yang terakhir kali aku alami belasan tahun lalu, kambuh. 

Aku merasa seperti dihukum.

Dan akhirnya pecahlah tangisku. Kuceritakan semua ketakutanku kepada suami. Aku merasa Allah tidak menyambutku. Rasanya seperti dicueki. Seolah diberi silent treatment.

Suamiku berkata, “Minta ampun kepada Allah. Tidak mungkin Dia tidak peduli. Mungkin kamu yang harus merayu-Nya.”

Hari keempat adalah hari ulang tahunku yang keempat puluh. Memang sengaja kupilih perjalanan ini untuk merayakan angka istimewa itu. 

Sayangnya, usahaku untuk masuk ke Hijr Ismail gagal. Aku sudah menunggu dua jam, lalu tiba-tiba askar mengatakan bahwa tempat itu sudah ditutup. Lagi-lagi aku merasa ini teguran dari Allah.

Aku sempat mencurigai niatku sendiri. Jangan-jangan aku datang ke sini bukan dengan niat yang cukup tulus. Aku memang sengaja memilih umrah untuk merayakan milestone hidupku di usia empat puluh tahun. Mungkin aku terlalu menjadikan perjalanan ini sebagai perayaan. Mungkin niatku kurang tulus. Mungkin Allah tidak berkenan karena aku datang dengan membawa terlalu banyak keinginan dan ekspektasi.

Pikiran-pikiran itu berputar di kepalaku. Aku mulai mengoreksi diri sendiri, mencari-cari kesalahan yang mungkin membuatku merasa tidak “disambut”. Tapi semakin kupikirkan, semakin aku sadar, aku sebenarnya tidak tahu.

Aku tidak tahu bagaimana Allah menilai niatku. Yang kutahu, perjalanan ini memang kuimpikan. Dan ketika diberi kesempatan untuk mewujudkannya, aku ingin membaginya dengan-Nya.

Bukankah manusia memang sering datang kepada Allah dengan berbagai macam alasan?

Ada yang datang karena berharap sesuatu. Ada yang datang karena sedang patah hati. Ada yang datang karena ingin bersyukur. Dan mungkin ada yang datang karena ingin merayakan hidup yang telah dilewatinya.

Mungkin tidak semua harus dimulai dari niat yang sempurna. Mungkin terkadang, kita datang dulu dengan segala ketidaksempurnaan kita, lalu perjalanan itu sendiri yang perlahan membenahi hati. Dan mungkin itulah yang terjadi kepadaku. 

Bahwa setelah empat puluh tahun hidup, ternyata aku masih merasa takut kehilangan kedekatan dengan-Nya. Masih bisa memohon agar hati ini disentuh. 

Aku menangis sejadi-jadinya di dalam Masjidil Haram, sambil menunggu salat Subuh. Aku berdoa. Bercerita. Menggugat. Lalu berpasrah. Dan setelah itu, entah bagaimana, rasanya plong. Baru kali itu hatiku terasa tenang.

Sampai kemudian aku tersadar. Aku berada di saf perempuan, tepat di depan Ka'bah. Biasanya tempat itu penuh sekali. Hari-hari sebelumnya aku selalu dapat barisan belakang. Tapi tadi, saking galaunya, aku tidak berpikir panjang. Aku hanya mencari sela kosong, lalu terduduk dan menangis.

Dan tiba-tiba aku berpikir, Masya Allah, mungkin justru itu jawabannya? Aku datang dengan hati yang kosong, lalu Dia memberiku ruang untuk menangis. Aku datang dengan begitu banyak hal berkecamuk di pikiran, lalu Dia memberiku tempat yang tenang untuk bercerita.

Aku merasa tidak disambut, padahal mungkin, sejak awal, aku sedang disambut dengan cara yang tidak pernah kubayangkan. Bukan dengan air mata haru ketika pertama kali melihat Ka'bah. Bukan dengan rasa takjub seperti yang kuceritakan orang-orang. Tetapi dengan kegelisahan yang memaksaku mencari-Nya lebih dalam. Dengan hati yang terusik.

Tangis yang akhirnya tumpah pagi itu, di depan Ka'bah, menyadarkanku, mungkin aku yang datang membawa ekspektasi tentang seperti apa seharusnya perasaanku kepada Allah. Sementara Allah tidak pernah berjanji akan menyambutku dengan cara yang sama seperti Dia menyambut orang lain.

Hari itu aku belajar, barangkali tidak semua sambutan dari Allah terasa seperti keharuan. Kadang ia datang sebagai kegelisahan. Aku hanya perlu datang. Dengan niat yang terus kubenahi sepanjang perjalanan. Dengan hati yang apa adanya. Dengan segala bingung, takut, berharap, dan ingin dicintai. Datang kepada Allah tanpa berpura-pura bahwa hati kita sudah penuh.

Selesai salat Subuh hari itu, aku diajak suami menyentuh Ka'bah. Benar saja, begitu tanganku menyentuh dan mencium kiswah, tiba-tiba rasa haru itu membuncah. Rasa yang sejak hari pertama kucari-cari. Rasa yang kupikir seharusnya datang begitu pertama kali melihat Ka'bah. Ternyata rasa itu datang ketika aku sudah berhenti menuntutnya.

Hari terakhir di Makkah, kami melakukan tawaf sunah. Kami mencoba mendekat ke Multazam. Harus berdesak-desakan, tentu saja. Tapi bisa menyelipkan doa singkat sambil menyentuh pintu Ka'bah saja sudah membuatku bahagia. Tidak perlu lama. Tidak perlu dramatis. Rasanya sudah cukup.

Lalu ada satu kejadian kecil yang tak disangka-sangka. Awalnya aku ingin mengusap Rukun Yamani. Tiba-tiba orang di sampingku menyingkir, memberi sedikit ruang. Suamiku bisa ikut mendekat dan akhirnya kami berdua bisa bersama-sama menyentuh dan mencium Rukun Yamani. Subhanallah.

Sampai akhirnya kami tiba di Madinah, perasaanku jauh lebih ringan. Aku tidak lagi sibuk mengejar pengalaman tertentu. Tidak lagi membandingkan perasaanku dengan pengalaman orang lain. Aku hanya ingin menikmati setiap kesempatan berada di sana. Berdoa ketika ingin berdoa. Menangis kalau memang ingin menangis. Diam kalau memang hanya ingin diam. Dan bersyukur.

Mungkin itulah hadiah terbesar dari perjalanan ini. Aku datang ke Tanah Suci dengan bayangan bahwa aku akan menemukan rasa haru. Ternyata ketika aku berhenti menuntut sebuah pengalaman spiritual tertentu, justru saat itulah hatiku mulai benar-benar merasakan. Aku saja yang terlalu sibuk menunggu jawaban dalam bentuk yang kupahami. Padahal, sejak awal, Dia menyambutku. Hanya saja, sambutan-Nya bukan seperti yang kubayangkan.

Dan mungkin begitulah cara Allah mengajariku: bahwa dalam perjalanan mendekat kepada-Nya, terkadang yang perlu kita lepaskan bukan hanya dosa dan kesombongan, tetapi juga ekspektasi tentang bagaimana seharusnya kita merasa ketika berada dekat dengan-Nya.

Cukup datang. Cukup mengetuk. Cukup bercerita.. Selebihnya, biarkan Dia yang menentukan bagaimana hati kita akan dipulangkan.

Comments

Popular posts from this blog

Yang Kedua

Utang Mengutang

Wuzz wuzz wuzz...