Ternyata, Dia Menyambutku dengan Cara yang Berbeda (Notes from Umrah)
Pertama kali melihat Ka'bah, saya merasa biasa saja. Suami saya tercekat tangis. Teman-teman serombongan terlihat terpana. Sementara saya hanya berpikir, "Oh, ini toh. It's smaller than I thought ." Hanya itu. Sambil tawaf, saya perhatikan bangunan berselubung kain hitam itu. Sembari berdoa, sembari mengikuti bacaan dari muthawif. Beberapa jamaah terlihat bercucuran air mata. Saya justru berpikir keras, kenapa saya tidak terharu? Kenapa perasaan ini terasa kosong? Selesai semua prosesi umrah, saya masih berusaha memahami perasaan sendiri. Ke mana rasa haru biru itu? Ke mana getar-getar yang, kata orang-orang, akan terasa begitu menginjakkan kaki di Baitullah? Sejujurnya, saya takut. Hari kedua, sengaja saya datang lebih awal sebelum azan Zuhur, untuk salat dhuha dan salat-salat sunah lainnya. Lama saya pandangi lagi Ka'bah. Saya berdoa. Berusaha membuka hati. Tapi justru semakin terusik karena rasanya tetap hampa. Padahal saya di sini, padahal ini perw...