Gantung

Seorang sahabat bercerita tentang kisah cintanya, yang menurut gw aneh tapi nyata. Emm..ralat deng, mungkin gak aneh untuk beberapa orang yang memiliki prinsip yang sama. Tapi, yang satu ini bener-bener bikin geregetan :)

Teman gw ini perempuan, manis-chubby(;p)-berjilbab. Dia punya teman dekat, laki-laki, seniornya di kampus. Hubungan mereka ini yang agak aneh. Mereka punya panggilan sendiri untuk masing-masing, semacam akang-teteh gitu lah. Dan yang membuat mereka makin dekat adalah aktivitas di kampus. Kebetulan si lelaki mempunyai daya jelajah pikir yang luas, dan temen gw ini satu dari segelintir orang yang bisa memahaminya :) Mereka bertambah akrab lagi ketika dipertemukan di suatu wadah diskusi kampus dan beberapa pekerjaan di suatu lembaga. Singkatnya, klop.

Tapi, lelaki ini punya prinsip. Gak ada istilah 'pacaran' dalam kamusnya. Sementara, si perempuan juga memahami konteks yang sama. Cuma, yang bikin geregetan, lelaki ini gak pernah sekalipun menyampaikan perasaannya. Dan, itu udah berlangsung selama 5 tahun. Selama itu, mereka cuma pernah keluar bareng berdua satu kali. Itupun, menurut temen gw, garing setengah mati. Si lelaki gak banyak omong, si perempuan jadi ikut mati gaya. Belum ada obrolan yang mendalam antara mereka, tentang hal-hal remeh-temeh ataupun hal sehari-hari. Yang ada cuma tentang kerjaan, kerjaan, dan kerjaan.

Sementara temen gw ini udah jatuh sakit dengan diagnosis: obsesif kompulsif. Perasaan suka untuk lelaki tersebut udah diejawantahkan dalam konstruksi mimpi dan impian masa depan (baca: kehidupan rumah tangga). Meski gak ada label khusus mengenai hubungan mereka berdua, temanku tersayang itu merasa, inilah hubungan yang dewasa. Gak ada kata-kata gombal, apalagi kontak fisik, jadi mereka terjaga dari hal-hal yang dilarang Tuhan.

Dulu, hubungan yang gw pertanyakan itu, masih bisa ditangkis temen gw dengan bilang, "Mungkin dia merasa belum waktunya diomongin, kan aku masih kuliah, pasti dia ada pertimbangan itu". Nah, sekarang, udah gak ada penghalang lagi. Dua-duanya udah sama-sama lulus dan kerja. Tinggal merancang-bangun investasi masa depan. Tapi, yah itu dia, lagi-lagi tetepppp...gak ada percakapan mengenai "Kita ini apa dan bagaimana eksistensi masing-masing di satu sama lain". Gw si bingung. Emang mereka beneran udah satu frame? Satu visi dan misi? Gimana cara komunikasinya, ngobrol aja kan jarang? Semua berondongan pertanyaan gw hanya dijawab temen gw dengan senyum manis, dan jawaban, "Semua seperti udah diatur...kalo bukan karna pekerjaan ini, mungkin kami gak bisa ketemu lagi". Ck..ck..ck...Sekuat itukah cinta?

Nah, beberapa waktu belakangan ini muncul kekhawatiran. Dua-duanya ada kesempatan nerusin sekolah lagi. Tapi di tempat yang sama sekali berbeda. Temen gw ngerasa gundah. Bagaimana hubungannya nanti, karna penyelamatnya selama ini adalah pekerjaan (yang bisa mempertemukan mereka). Temen gw sempet bercanda, dia kayak lagi di-gantung sama pacar. Wah, buat gw itu mah kayak digantung dari 5 tahun yang lalu. Hebat deh, teman gw yang satu ini. She has been waiting for that long. Kalo gw? Boro-boro. Digantung 3 hari aja udah murka (upss..curhat, hehehe).

Hmmm...Oke, dengan meminjam alasan 'taaruf' dalam Islam, gw mencoba memahami perasaan temen gw. Tapi, berhubung contoh taaruf yang gw liat cuma di film Ayat-Ayat Cinta (;p), gw taunya proses itu dijalani dengan perkenalan keluarga juga. Sementara dalam kasus temen gw ini, boro-boro mendekat ke keluarga, untuk menyatakan secara empat mata aja gak pernah. Kalaupun ada pernyataan perasaan dari si lelaki, itu tersalurkan melalui blog pribadinya saja. Tulisan yang penuh dengan pujian selangit untuk seorang perempuan, yang gw dan (temen pastinya) maknai bahwa perempuan yang dimaksud dalam blog itu adalah temen gw.

Buat gw, mestinya tetap harus ada penjelasan. Iya kalo si lelaki itu memang bercita-cita rumah tangga yang sama. Lah kalo enggak? Worst case scenarionya: gimana kalo ternyata selama ini lelaki ini hanya memanfaatkan teman gw untuk kepentingan pekerjaannya semata, gimana kalo ternyata wanita di blog-nya itu wanita lain, atau gimana kalo si lelaki ini saking lugunya, gak nyadar kalo charm-nya udah menghujam jantung temen gw (lebay ya) dan pertanyaan "gimana kalo" lainnya muncul di otak gw.

Semua pasti ada waktunya. Bener, tapi kalo kesempatan di depan mata disia-siain demi idealisme? Bisakah? Hmm, soal cinta, menurut gw, emang buta, dan gak kenal logika. Gw tau, 5 tahun gak sebentar, dan pastinya untuk keluar dari zona nyaman itu susah banget (amat sangat), tapi move on dan mencoba melihat dunia dengan mata lebih terbuka lebar-lebar bisa membuat hati terbuka juga (meski standar si lelaki itu pasti gak bisa turun ;p). Yah, mudah-mudahan semua berakhir indah, sesuai dengan teman gw harapkan. Gw cuma bisa berdoa, terutama untuk lelaki ituh! Mudah-mudahan segera dibukakan jalan pikirannya. Kasian tau temen gw! Hehehehe, emosi dah...


*Semua tokoh dan nama dalam cerita ini adalah rahasia. Jika ada kesamaan cerita, itu di luar tanggung jawab saya :)

Comments

Popular posts from this blog

Yang Kedua

Utang Mengutang

Nyasar