Posts

Marriageable

Nikah. Kata itu ada di sekitar saya belakangan ini. Gara-gara abis baca buku Shit Happens, tentang orang-orang yang memandang skeptis sebuah pernikahan, gara-gara cerita temen yang abis nonton film Hari untuk Amanda trus nakut-nakutin soal "is-he-really-the-one", gara-gara temen yang bilang lagi melakukan taaruf, dan gara-gara sepupu saya yang seumuran mau nikah bulan Maret ini. Khusus gara-gara terakhir, tiap ketemu keluarga besar saya jadi sasaran tembak pertanyaan klise "mana calonnya?", "kapan nyusul?", dan seterusnya. Kalo saya bilang pengen nikah empat tahun lagi, saya malah dipelototin. "Lama banget!" kata tante-tante saya. Haduh! Belum lagi temen-temen deket saya yang kebanyakan udah ngomongin rencana pernikahan. Lagi ngobrol apapun, bisa nyangkut ke satu kata itu. Dari ngomongin adat apa yang bakal dipake, sampe seragam apa buat kami para bridesmaid-nya. Ya sebenernya nikah sekarang, 5 tahun yang lalu, atau 5 tahun lagi, tergantung kesia...

Weary

Well i guess no other way to run from this worry. That's why i owe you an explanation. We talk and laugh, we chat about love. But the border still there: my invisible army of defense. Keep going, i know this feeling. I'm gonna like you in a month, then turn to hate you in a minute. Weird in many thoughts is my specialty. You, with your brain impress me in curiosity. I enjoy this distraction, love this emotion. But still worry, otherwise, i'm weary. Keep going, i know what will happen next. You have so much fire blast, but move back at glance. Me become cynical and you dramatize it all. Then me and my worry become bestfriend again, repeatedly. And i don't own any explanation.

Ramalan La Bocca Della Verita

Pas lagi beres-beres, saya nemuin kertas kecil. Isinya ramalan tentang hidup saya. Ini dari sebuah mesin. Yap, bukan peramal gipsi yang pake bola kristal atau peramal kartu tarot. Saya dapetin 3 tahun lalu di Negeri Singa. Di depan si mesin ada tulisan "La Bocca Della Verita". Bentuk mesinnya wajah Medusa (eh gak tau deng, pokoknya macam dewa-dewa itu lah ;p), trus ada suara otomatis yang ngasih instruksi. Cukup dengan koin 5 sen, letakkan tangan di mulut si Medusa, lalu saya "dibaca". Voila! Secarik kertas keluar. Mirip resi dari mesin ATM. Isinya begini: The Mouth of Truth tells you that: - You tend to be aggressive to satisfy your instinct - You enjoy excellent health although you often abuse it - You dont have much faith in human nature - You sometimes seem emotionally shallow and almost heartless - Your health problems, for the main part, are due to nerves. You can sort them out by thinking hard about yourself - There are excellent indications of a happy marri...

Selamat Hari Lahir

Hari ini berlangsung seperti biasa. Tak ada telepon tengah malam, apalagi sebuket bunga. Ada kado di kamarku. Sepotong blus dan sepasang sepatu. Ternyata dari ibuku. Ku kecup pipinya dan berterima kasih. Lalu kakakku bergantian menyelamati. Ada yang di rumah, dari Borneo, dan Teluk Persia. Ayahku juga mengirim pesan, katanya berikan ia mantu. Hahaha. Meski mengamini, tapi kurasa tidak dalam waktu dekat. Aku ingin membelikan gelang emas dulu untuk ibu. ** Komputer jinjing kubuka. Cek e-mail , messenger , dan Facebook. Situs terakhir sudah menampung ucapan selamat. Ada ratusan. Senangnya. Aku coba balas satu-persatu. Ponselku juga berkedip-kedip. Pesan pendek berdatangan. Terima kasih berbagai versi kuketik. Tak ada kue tart. Tapi kakak iparku beli pizza tiga loyang. Keponakanku yang gendut ikut datang. Lucunya. Rasanya aku ingin bolos kerja. ** Sampai kantor, bos-bos kasih ucapan. Untung tidak dikerjain . Aku bikin tugasku seperti biasa. Ruangan pun sepi karna banyak yang cuti. Puasa R...

Pernah Kenal

"Hai gadis berjaket." Suara itu mengagetkanku. Aku menoleh dan tercengang. Orang itu memandangku sambil tersenyum. "Apa kabar?" tanyanya. Aku tak menjawab, hanya mengangguk singkat. Otakku berpikir keras, mencoba mengingat-ingat. Lalu aku bereskan mapku dan bersiap angkat kaki, sampai akhirnya dia bersuara lagi, "Sudah lama ya kita tak berjumpa. Hampir setahun." Aku bingung. Nadanya penuh percaya diri, sorot matanya seolah menembus wajahku. Aku tak punya persediaan basa basi. Tapi baiklah, sebaris senyum agaknya tak akan rugi. Dan entah kenapa, orang itu harus berujar lagi, "Saya berjalan jauh kali ini. Sampai Ujung Kulon." "Oh ya?" Sial, kenapa harus kutanggapi segala. Dia tertawa, mungkin puas berhasil membuatku bersuara. "Saya dengar kamu punya pekerjaan luar biasa." Dahiku mengerenyit. Apa-apaan? Kali ini aku mulai tak sabar. Ku mengedikkan bahu dan segera berlalu. Masih sempat-sempatnya ia berujar, "Kala...

HP

Gw pertama baca buku Harry Potter (HP) pas kelas 2 SMP. Abang gw yang ngasi tau kalo ada buku baru. Tentang penyihir katanya, penuh imajinasi, pokoknya keren. Dibeliinlah HP dan Batu Bertuah (The Sorcerer's Stone/Philosopher's Stone). Tadinya gw males bacanya. Gw pikir bakal aneh, gak masuk akal, dan membosankan. Tapi begitu baca, gw langsung jatuh cinta. Imajinasi sang penulis, JK Rowling, luar biasa. Gw ngerasa seperti terserap masuk ke dunia sihir itu sendiri. Selesai buku pertama, gw langsung melahap buku keduanya, HP dan Kamar Rahasia (The Chamber of Secret). Lagi-lagi gw terbius sama petualangan Harry, Ron dan Hermione. Plus rasa penasaran yang makin memuncak tentang si penjahat paling menakutkan, You-Know-Who: Lord Voldemort. Buku ketiga, HP dan Tawanan Azkaban (Prisoner of Azkaban), kalo gak salah baru gw baca pas 2001, pas masuk SMA. Nah di tahun ini juga film pertama Harry digembar-gemborkan. Sempet berekspektasi tinggi, ternyata pas udah nonton rada kecewa. Ban...

Astaga...

Astaga! Rasanya aku sudah melewati jembatan penyeberangan, garis-garis zebra, pembatas jalan, hingga trotoar penuh kaki lima. Semata untuk menghindari jalan yang sama denganmu. Aku bahkan putar balik, ambil arah berlawanan. Tapi tetap saja, marka jalan di mana-mana seolah mencatut namamu. Papan baliho menyampul fotomu. Dan, ada saja orang yang repot-repot menyapa mengabarkan tentangmu. Huh. Ku dengar jalan yang kamu lalui mulus, lancar, bagai tol bebas hambatan. Hangat dan cerah cuacanya. Lah, aku disini mendung. Bolak-balik kehujanan. Berulang kali terjatuh di lubang, karena jalan yang tak diaspal. Belum lagi naik-turun, berbelok-belok. Bikin mual. Aku bertanya kini pada Pihak Berwenang. Apa aku salah jalan? Haruskah aku terus berjalan di landasan yang sama, sementara tujuan kami berbeda? Kalau begitu, kenapa seolah ia ditemani malaikat sementara aku harus berjibaku dengan yang jahat? Tolong, Pihak Berwenang, beri petunjuk. Dengan begitu, aku tahu, aku tidak tersesat.